Lompat ke konten

Membangun Komitmen Itu Seperti Naik Kelas: Dimulai dari yang Pendek dan Kecil

Kemarin, saya baru saja mengikuti kelas dari Mas Darmawan Aji (@ajipedia) tentang produktivitas, khususnya bagi para praktisi Talents Mapping. Ada satu insight menarik yang seketika melempar ingatan saya kembali ke masa lalu—tentang bagaimana proses panjang saya dalam belajar membangun konsistensi dan komitmen.

Jebakan Minat Tanpa Tujuan

Dulu, sewaktu masih berkuliah, saya sering bertanya pada diri sendiri: “Kok sulit sekali ya untuk berkomitmen pada satu hal?”

Pola yang terjadi biasanya sama. Saat sedang fokus mempelajari suatu hal, tiba-tiba ada hal lain yang tampak menarik. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengikutinya. Ujung-ujungnya? Kegiatan pertama jadi terbengkalai. Kalaupun selesai, hasilnya tidak akan maksimal karena fokus yang terbagi-bagi.

Dari sana saya menyadari satu hal penting: mengikuti course atau kegiatan hanya berdasarkan minat ternyata tidak cukup. Minat itu mudah berubah. Untuk bisa bertahan, saya butuh yang namanya Tujuan.

Strategi “Naik Kelas” dalam Berkomitmen

Karena sadar bahwa berkomitmen itu tidak mudah bagi saya, saya tidak langsung memaksakan diri mengambil tanggung jawab raksasa. Saya tahu saya harus melatih “otot komitmen” ini secara bertahap.

Akhirnya, saya mulai mencari kegiatan dengan komitmen jangka pendek terlebih dahulu:

  1. Skala 1 Minggu: Saya mulai dengan mendaftar kelas pendek yang hanya butuh fokus selama satu minggu penuh.

  2. Skala 1 Bulan: Setelah berhasil menuntaskannya, rasa percaya diri muncul. Saya tingkatkan lagi tantangannya dengan mengikuti kelas yang berdurasi satu bulan.

  3. Skala 3 Bulan: Berhasil di skala bulanan, saya mencoba melangkah lebih jauh dengan mendaftar sebagai volunteer bertempo 3 bulan.

  4. Skala 6 Bulan: Naik tingkat lagi, saya memberanikan diri mendaftar program beasiswa yang membutuhkan komitmen belajar selama setengah tahun.

  5. Skala 1 Tahun: Sampai akhirnya, saya sanggup mengambil peran dan kegiatan yang membutuhkan durasi komitmen hingga satu tahun penuh.

Apakah prosesnya mulus? Tentu saja tidak.

Setiap kali naik tingkat durasi, selalu ada rasa tidak nyaman dan beban yang lumayan berat. Tubuh dan pikiran kita alami menolak ketika diajak keluar dari zona nyaman yang baru saja terbentuk.

Menikmati Buah dari Langkah-Langkah Kecil

Namun, rasa tidak nyaman itu terbayar tuntas hari ini. Saat ini, saya merasa jauh lebih mudah untuk menuntaskan kelas atau proyek belajar apa pun yang saya ambil dengan sungguh-sungguh.

Kemampuan untuk konsisten dan menyelesaikan apa yang dimulai ternyata bukan “bawaan lahir”, melainkan hasil latihan berulang. Semua berawal dari keberanian untuk membangun komitmen dari hal yang paling kecil dan durasi yang paling pendek terlebih dahulu.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu sedang merasa sulit berkomitmen pada suatu hal? Coba turunkan skala targetmu dulu. Mulai dari yang 1 minggu, 3 hari, atau bahkan 1 hari ini saja. Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai dari satu langkah kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *