Lompat ke konten

Lebih dari Sekadar Percikan: Mengapa Curiosity Butuh Perseverance

Setelah kemarin saya menulis tentang bagaimana komitmen dibangun dari langkah-langkah kecil, saya jadi teringat proses belajar saya sendiri.

Dulu, saya adalah tipe orang dengan rasa penasaran yang sangat besar. Rasa ingin tahu itu membawa saya menjelajahi banyak hal—sayangnya, secara acak dan tidak terarah. Semuanya terasa menarik di awal, sampai akhirnya saya belajar satu hal krusial yaitu membangun komitmen.

Perlahan, ada sesuatu yang mulai terbentuk dalam diri saya. Saya belajar untuk menuntaskan apa yang sudah dimulai, terutama untuk aktivitas belajar yang membutuhkan durasi panjang. Tanpa saya sadari, proses menuntaskan itu membentuk satu hal yang sangat berharga yaitu ketahanan dalam belajar (learning endurance).

Ketika Spark Mulai Meredup

Kita sering mendengar betapa pentingnya curiosity atau rasa penasaran. Rasa penasaran adalah spark, yakni percikan api yang mengaktifkan semangat di awal perjalanan. Namun, sifat dasar percikan adalah sementara. Ia menyala terang di awal, lalu perlahan meredup seiring berjalannya waktu.

Di sinilah peran perseverance (ketahanan/ketekunan) menjadi krusial.

Saat rasa penasaran mulai pudar dan antusiasme tidak lagi sama seperti di awal, komitmenlah yang mengambil alih. Perseverance adalah alasan mengapa kita memilih untuk tidak melarikan diri ketika menghadapi jalan buntu, rasa bosan, atau hambatan sulit di tengah jalan. 

Kalau curiosity adalah percikan yang membuat nyala api di awal, maka perseverance adalah kayu bakar yang menjadikan nyala api tetap bertahan sampai akhir.

Membawa Rasa Penasaran ke Titik Akhir

Curiosity tanpa diimbangi ketahanan hanya akan menjadikan kita pembelajar yang berpindah-pindah tanpa pernah sampai ke tujuan yang jelas. Kita mungkin lihai dalam memulai banyak hal, tetapi jarang merasakan kepuasan dalam menuntaskan sesuatu.

Dalam dunia pengembangan diri, kedua hal ini harus berjalan berdampingan:

  1. Curiosity untuk membuka pintu dan memulai langkah awal.
  2. Perseverance untuk tetap bertahan di jalan yang sudah kita pilih, bahkan saat situasi terasa sulit.

Sejatinya, dalam hidup dan proses belajar, tantangan akan selalu ada dan siap menyambut kita kapan saja. Memiliki rasa penasaran saja tidak cukup. Kita juga perlu menjadi pribadi yang mau dan sanggup untuk terus bertahan pada komitmen yang sudah kita mulai.

Dari refleksi proses belajar ini, setidaknya ada dua hal yang mulai terbentuk dalam diri saya. Saya belajar untuk menuntaskan apa yang sudah dimulai. Proses itu ternyata menempa learning endurance (daya tahan belajar) saya.

Dan saat rasa penasaran  mulai pudar, perseverance berperan untuk menjaga saya tetap berada di jalur yang sudah saya pilih. Dan ini yang dinamakan dengan komitmen.

Jadi, saat kita mencoba untuk membangun komitmen di awal, yaitu menuntaskan apa yang kita mulai sampai akhir. Ada hal lain dalam diri kita yang tanpa sadar juga terbentuk, yaitu ketahanan dalam belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *