Lompat ke konten

Baca Sampai Tuntas atau Lompat-Lompat? Memahami Cara Membaca Sesuai Kebutuhan

Membaca buku adalah salah satu aktivitas yang bisa kita lakukan sebagai hiburan. Di sisi lain, membaca juga bisa menjadi jembatan untuk mengakuisisi pengetahuan dan mempelajari sesuatu yang baru.

Sah-sah saja bagi siapa pun untuk menjadikan membaca sebagai hiburan, rekreasi, maupun sarana belajar.

Saya sendiri melakukan keduanya.

Saya membaca untuk belajar dan mengakuisisi pengetahuan. Tapi saya juga membaca untuk mencari hiburan, menikmati cerita, atau sekadar menemukan kalimat yang terasa dekat dengan apa yang sedang saya rasakan.

Namun, dalam perjalanan membaca, saya menemukan bahwa ternyata ada tantangan yang cukup menarik.

Ketika Membaca Justru Menjadi Beban

Tantangan yang mungkin cukup familiar bagi orang yang hobi membaca adalah reading slump, yaitu ketika kita kehilangan minat atau motivasi untuk membaca.

Saya pernah mengalaminya.

Tapi ternyata ada satu hal lain yang membuat saya semakin sulit membaca: rasa bersalah ketika ingin berpindah dari satu buku ke buku lainnya.

Saat sedang membaca sebuah buku dan belum menyelesaikannya, saya merasa seharusnya saya menuntaskan buku tersebut terlebih dahulu.

Akibatnya, saya justru tidak membaca buku sama sekali dalam waktu yang cukup lama.

Perpaduan antara reading slump dan rasa bersalah karena meninggalkan buku yang belum selesai membuat aktivitas membaca yang seharusnya menyenangkan terasa seperti sebuah kewajiban.

Sampai akhirnya, saya bertemu dengan beberapa teman yang ternyata bisa membaca banyak buku dalam satu waktu tanpa merasa bersalah meninggalkan bacaan sebelumnya.

Dari situ, saya mulai mencoba sesuatu yang berbeda.

Saya membolehkan diri sendiri membaca buku apa saja yang sedang menarik perhatian saya, meskipun bacaan sebelumnya belum selesai.

Dan ternyata, dari kebiasaan sederhana itu, saya menemukan beberapa hal baru tentang cara saya membaca.

Ternyata Membaca Juga Berkaitan dengan Kondisi Emosional

Setelah mengamati pengalaman membaca saya sendiri, saya menyadari bahwa membaca ternyata memiliki hubungan yang cukup erat dengan kondisi emosional.

Setidaknya bagi saya.

Ketika secara emosional saya sedang tidak cukup stabil, misalnya, lalu saya memaksakan diri membaca buku pengembangan diri, bukannya menjadi lebih bersemangat, saya justru merasa kesulitan memahami isi buku tersebut.

Pada kondisi seperti itu, saya biasanya memilih bacaan yang lebih ringan.

Bisa berupa fiksi, kumpulan tulisan pendek, atau buku yang berisi kalimat-kalimat singkat yang memberikan insight dan validasi terhadap apa yang sedang saya rasakan.

Dari sini saya mulai memahami bahwa mungkin tidak semua buku harus dibaca dengan cara yang sama.

Ada kalanya kita membutuhkan buku untuk dipelajari secara mendalam.

Ada kalanya kita hanya membutuhkan satu atau dua kalimat yang mampu menemani kita melewati hari yang sedang berat.

Membaca Lompat-Lompat Tidak Selalu Berarti Tidak Serius

Setelah sebelumnya merasa bersalah ketika meninggalkan sebuah buku, saya mulai membiasakan diri untuk membaca buku apa saja yang sedang menarik perhatian saya.

Bukan berarti saya tidak serius dengan buku yang sedang saya baca.

Justru saya mulai melihat bahwa ada kebutuhan yang berbeda di balik setiap aktivitas membaca.

Ketika saya membaca secara lompat, biasanya saya sedang membutuhkan sesuatu yang lebih cepat.

Saya mungkin sedang membutuhkan insight tertentu.

Sedang mencari jawaban atas sebuah keresahan.

Atau hanya membutuhkan beberapa kalimat yang bisa menjadi pencerah di tengah kehidupan yang sedang terasa bising.

Dalam kondisi seperti itu, saya tidak selalu membutuhkan satu buku secara utuh.

Saya hanya membutuhkan apa yang sedang relevan dengan kondisi saya saat itu.

Lalu, Kapan Perlu Membaca Satu Buku Sampai Tuntas?

Di sisi lain, saya juga menemukan bahwa membaca satu buku sampai selesai memiliki manfaatnya sendiri.

Ketika membaca satu buku secara utuh, kita memiliki kesempatan untuk memahami gagasan penulis dengan lebih lengkap.

Pengetahuan yang kita dapatkan juga bisa menjadi lebih utuh, dibandingkan jika kita hanya mengambil beberapa bagian yang terasa menarik.

Bagi saya, membaca satu buku sampai tuntas biasanya saya lakukan ketika sedang ingin membangun sesuatu untuk jangka panjang.

Misalnya ketika ingin:

  • membangun kebiasaan baru,
  • belajar mengelola keuangan,
  • mengembangkan kemampuan komunikasi,
  • belajar menjadi orang tua,
  • atau memahami suatu keterampilan secara lebih mendalam.

Dalam kondisi seperti ini, komitmen untuk menyelesaikan satu buku menjadi bagian dari proses belajar.

Bukan sekadar menyelesaikan halaman demi halaman, tetapi benar-benar memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk memahami sebuah gagasan secara utuh.

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Membaca satu buku sampai selesai atau membaca beberapa buku secara bergantian?

Setelah mengalami keduanya, saya merasa pertanyaannya mungkin bukan lagi tentang mana yang lebih baik.

Pertanyaannya justru:

Apa yang sedang saya butuhkan dari membaca saat ini?

Ketika saya membutuhkan insight cepat, membaca secara lompat bisa menjadi pilihan.

Ketika saya sedang ingin belajar dan membangun sesuatu untuk jangka panjang, membaca satu buku sampai tuntas bisa menjadi pilihan yang lebih tepat.

Jadi, buat kamu yang selama ini bingung apakah harus menyelesaikan satu buku terlebih dahulu atau boleh membaca beberapa buku dalam satu waktu, menurut saya tidak ada yang salah.

Kita boleh membaca sampai tuntas.

Kita juga boleh berhenti sejenak dan membaca buku lain.

Yang mungkin perlu kita perhatikan adalah alasan di balik pilihan tersebut.

Apakah kita berpindah buku karena memang menemukan bacaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan kita?

Atau karena kita sedang menghindari proses belajar yang terasa sulit?

Begitu juga ketika kita memaksakan diri menyelesaikan sebuah buku.

Apakah kita memang sedang membangun komitmen untuk belajar?

Atau justru sedang merasa bersalah karena merasa “seharusnya” menyelesaikannya?

Pada akhirnya, nikmati saja buku yang sedang ingin kamu baca.

Bacalah buku yang kamu butuhkan.

Lalu pertanyaannya, bagaimana kita tahu buku seperti apa yang sebenarnya sedang kita butuhkan?

Next, saya bahas di artikel yang lain, ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *